"Rumah adalah masalah hati. Bersamamu, kemana pun, aku menyebutnya ‘pulang’"
Still awake. 11:16 PM.
Still awake. 11:16 PM.
(Source: bluquote)
And I will wait you back next year :)
After reading my birthday email from Gagah.
(Source: bluquote)
Ich vermisse dich so sehr…
No matter how I’ve been so productively working in field that I love with lots of satisfied bosses. How warmth my family I am surrounded in. How awesome all my girls, my super best friends are. And no matter how I know that you will come back again by next year and distance is only temporary.
But still.
A minute I stop being busy
A minute before I fall asleep
A minute I open my eyes waking up
A minute I check my Archive to re-read your funny emails
I remember you and our unforgettable two weeks
I know that we’re not meant to be together
I wish I were born ten years earlier from now and met you in that project
I wish I could say this to you on my own
No matter how you’ll think it as a stupid words to say
Coz I’ve loosed so much time thinking about the way to let you know:
I’m dying for weeks. Days and hours.
You came in the right times. You’re the closing story of my beautiful year
Und Ich verliebe mich in Dich…
No, I’m not complaining
I’m so thankful for what I have right now
I just want to let the world know that no matter how great I am right now,
there’s something missing if you’re not around…
Thank you for giving me this feeling
I don’t know why I tell you this… I even don’t know why I write this
But thank you, I.O.
“Jangan nikah cuma karena kalian sudah terlalu lama pacaran. Jangan nikah hanya karena lingkungan sudah menerima kalian sebagai ‘pasangan’. Jangan lihat di mana dia kerja. Jangan hiraukan ocehannya tentang bisnis dan masa depan. Jangan lihat jabatan bapaknya. Jangan pedulikan gelar-gelar leluhurnya. Jangan lihat usianya. Jangan peduli dia lulusan mana. Jangan peduli dia mantan siapa. Dan jangan tanya pendapat orang lain apa dia cocok jadi suamimu ato enggak. Pokoknya jangan!”
Frau Ross, salah seorang Section Manager di kantor saya, memberitahu saya banyak hal tentang laki-laki. Tentang mantan suami-nya, sebenarnya. Delapan tahun pacaran. Menikah di umur 23 tahun. Lebih muda 6 tahun dari suaminya. Dan bercerai 5 tahun kemudian. Sehari sebelum pernikahannya, ia masih tidak yakin apakah laki-laki yang akan dia nikahi adalah orang yang tepat. Malam pertama ia jalani dengan pertengkaran pertama. Tahun pertama rumah tangganya ia lalui dengan kehadiran banyak “orang ketiga”. Tahun kedua, ketiga, dan keempat, ia bekerja untuk melunasi hutang suaminya yang bangkrut. Tahun kelima, ia menalak suaminya dan pergi membangun hidupnya sendiri dari nol dengan putera semata wayangnya yang baru saja ia lahirkan saat itu.
“Kadang-kadang saking takutnya nggak nemu cowok lain yang bisa nerima gue jelek-jeleknya, gue terpaksa untuk stay sama dia. Lagian udah 6 tahun. Dan dia sayang banget sama gue. Meski sebenernya…. gue sendiri udah hambar.”
Vika, salah seorang sahabat paling hebat yang pernah saya miliki, punya pendapat sendiri tentang hubungannya. Ia sering meyakinkan dirinya bahwa seburuk apapun pacarnya, ia yakin bahwa pacarnya punya masa depan. Ia yakin bahwa tidak ada laki-laki yang bisa melihat dirinya bukan dari fisiknya—selain pacarnya. Lebih baik dicintai daripada mencintai, bukan?
“Gue bahagia kok meski nggak ada pacar. Banyak hal yang bisa gue lakuin untuk diri gue sendiri. Buat apa pacaran kalo nangis terus? Galau terus di twitter? Gue percaya entar juga ada waktunya.”
Melati, wanita tangguh yang pernah saya temui, mengomentari para perempuan yang menangis ribuan malam hanya untuk seorang cowok. Sudah tahu hubungannya beresiko. Sudah tahu beda agama. Nggak ada masa depannya. Sudah tahu dia temperamen. Tukang selingkuh. Sudah tahu statusnya in relationship. Sudah nge-remove tapi saja masih diingat-ingat. Terkadang, sendiri lebih baik. Kalian tahu. Love malfunctions your brain, katanya.
Kalian tahu. Ketakutan itu pasti ada. Kesalahan saat memilih pasti ada. Karena itu kita mengenal “pacaran”, proses penyatuan hati dan keterikatan emosi untuk menyusun keping demi keping ketidakseragaman menjadi pas dan serasi. Fase itu bukan harga mati yang memberatkan apa-apa. Tak ada Sejarah yang sia-sia. Kau hanya perlu menyelam lebih dalam dan menelan apa maksudnya. Cobalah untuk mencoba. Lagi, lagi, dan lagi. Dan kau akan menikmati setiap luka berharga yang mencarut setiap sel dalam ragamu. Menangis, berteriak, dan sumpahilah kebodohanmu. Setelah itu, tegakkan rambut ke belakang. Perisaikan wajah dan kembalilah. Do what you feel like it should be. Just go on deal with your chemistry.
Tol Sudirman. Maghrib.
There’s something in the way you look at me. And you know that I feel the same too. Deep inside. Here. You can’t see it, though. But we both know it won’t work. So stop looking at me like that. Everytime you ask about why I was absence yesterday. Everytime you’re look so pale when I feel no good. Every jokes you text to make my day brighter. Everytime you grab my hand. Whisper in my ear. Every time you piss me off. And the way you say sorry. Close and gentle.
Please forgive me, dear Whoever-You. I know I shouldn’t fall for your husband.